PELATIHAN TEKNOLOGI PENINGKATAN KETAHANAN BAHAN BAKU TERHADAP ORGANISME PERUSAK PADA PRODUK KERAJINAN DI DESA KARANG SIDEMEN, NUSA TENGGARA BARAT

Andi Tri Lestari, Febriana Tri Wulandari, Endah Wahyuningsih

Abstract

Produk kerajinan Kelompok Wanita Tani (KWT) Karang Sidemen berbahan dasar bambu. Bahan baku berupa bambu sering kurang optimal karena kerentanannya terhadap organisme perusak terutama jamur pelapuk, rayap kayu kering dan kumbang bubuk kayu kering. Kerusakan pada bambu dapat terjadi pada bahan baku, barang kerajinan yang sudah jadi, bahkan yang sudah sampai di tangan konsumen. Oleh karena itu maka perlu dilakukan upaya pencegahan. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui teknologi peningkatan ketahanan bahan baku terhadap organisme perusak. Selain dapat meningkatkan ketahanan bambu terhadap organisme perusak kegiatan ini juga dapat menambah nilai jual produk kerajinan sehingga diperlukan optimalisasi kualitas dan nilai produk kerajinan tersebut melalui pelatihan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas dan kualitas produksi sehingga para pengrajin dapat berkembang baik secara kualitas maupun nilai ekonomi produk kerajinannya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anggota KWT Karang Sidemen sangat kooperatif dalam pelaksanaan pelatihan ini dan mampu melaksanakan kegiatan pengawetan bambu dengan baik. Anggota KWT Karang Sidemen menyampaikan apresiasi kepada Tim Pengabdian dari Jurusan Kehutanan Universitas Mataram dan berharap ada kegiatan tindak lanjut terkait pengawetan bahan baku bambu untuk produk kerajinan yang akan bersentuhan langsung dengan makanan.

Full Text:

PDF

References

Abdurrohim, S. (1996). Pengawetan lima jenis kayu secara pelaburan memakai dua jenis bahan pengawet. Buletin Penelitian Hasil Hutan, 14(5), 204-210.

Aini, N., Morisco, & Anita. (2009). Pengaruh pengawetan terhadap kekuatan dan keawetan produk laminasi bambu. Forum Teknik Sipil, XIX, 979-986.

Abood F, Norhisam AR, Shahman M, Andy A. (2010). Sexual identification of bamboo borer, Dinoderus minutus (Fabricus) (Coleoptera: Bostrychidae). The Malayan Forester. 73(1), 1-6.

Herliana EN, Maryam LF, Hadi YS. (2011). Schizophyllum commune Fr. sebagai jamur uji ketahanan kayu Standar Nasional Indonesia pada empat jenis kayu rakyat: Sengon (P. falcataria), Karet (H. brasiliensis), Tusam (P. merkusii), Mangium (A. mangium). Jurnal Silvikultur Tropika. 2 (3), 176-180.

Ho Y. F. (1994). The Bamboo Powder-Post Beetle and its Control, FRIM Technical Information 46, Forest Research Institute Malaysia, Kepong.

Krisdianto. (2012). Pengujian ketahanan bilah bambu Betung (Dendrocalamus asper (Schults F.) Backer ex Heyne) terhadap jamur dengan cara hamparan tanah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 30 (3), 208–217.

Krisdianto, Sudika, D. A., Wahyudi, A., & Muslich, M. (2015). Keterawetan enam jenis kayu dari Jawa Barat dan Riau. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 33(4), 329-336.

Lempang, M (2016). Pengawetan Bambu untuk Barang Kerajinan dan Mebel dengaan Metode Tangki Terbuka. Eboni, 13 (2), 29-92.

Martawijaya A., Barly, Permadi P., (1994), Pedoman Teknis Pengawetan Kayu Untuk Barang Kerajinan, Pusat Litbang Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan, Bogor.

Priadi T, Nandika D, Sofyan K, Achmad, Witarto AB. (2010). Perubahan sifat kimia kayu sengon dan pinus oleh jamur pelapuk Schizophyllum commune dan Ganoderma applanatum. Jurnal Nusa Sylva. 10 (1), 22-28.

Sukartana. (2008). Tinjauan mengenai SNI 01-7207-2006: cara uji ketahanan terhadap bubuk kayu kering, Heterobostrychus aequalis Wat. (Coleoptera: Bostrychidae). Prosiding PPI Standardisasi, 25, 1-9.

Thapa RS, Singh P, Bhandari RS. (1992). Prophylatic efficacy of various insecticides for the protection of bamboo in storage against ghoon borers, Dinoderus sp. Journal of Indian Academy of Wood Science, 23, 39–47.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.