STRUKTUR KOMUNITAS MAKRO ALGA DI PERAIRAN DESA MATA SULAWESI TENGGARA

Ira ira

Abstract

Abstrak

Makroalga termasuk salah satu sumberdaya hayati laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Makroalga memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena memiliki peranan penting baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi mengenai struktur komunitas makroalga yang ada di perairan Desa Mata Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014-Januari 2015. Metode yang digunakan adalah metode kuadran ukuran 1x 1 m2 yang diletakkan pada garis transek sepanjang 100 m dengan interval 10 m. Makroalga yang ditemukan 17 spesies yang terdiri atas Kelas Chlorophyta berjumlah 7 jenis, kelas Phaeophyta 3 jenis dan kelas Rhodophyta 7 jenis. Komposisi jenis makroalga didominasi oleh kelas Chlorophyta (39%), Kelas Phaeophyta (37%) dan kelas Rhodophyta (24%). Indeks keanekaragaman makroalga sekitar 2.058 dikategorikan sedang, indeks keseragaman sekitar 0.726 dikategorikan tinggi dan indeks dominansi 0.198 dikategorikan rendah.

 

Kata Kunci: Makroalga, komunitas dan keanekaragam

 

Abstract

Macroalgae is one of the marine biological resources that are found in Indonesian waters. Macroalgae has great potential to develop, because it has an important role both in terms of ecological and economical. The study aimed to obtain information on the community structure of macroalgae in Mata village water, Kambowa districts, north buton district south east Sulawesi. The study was conducted in December 2014-January 2015. The method used in study is a sampling squares transect 1x1 m2 and other is 10 m distance and 100 m lenght. The observation was found that the number of macroalgae spesies consisted of 17 species consisting of chlorophyta class 7 species, phaeophyta class 3species dan rhodophyta class 7 species. The composition was dominated by chlorophyta class (39%), phaeophyta class (37%) and rhodophyta class (24%). Density of macroalgae with a value of 2.058 which is the category was based on the index of diversity, uniformity value amounted to 0.726 with a high category indexes based on uniformity while for dominance with value amounted to 0.198 and low dominance categorized based on the index of dominance.

 

Key words: Macroalgae, comunity and biodiversity

 

Full Text:

PDF

References

Ayhuan, HV., NP. Zamani., D. Soedharma. 2017. Analisis Struktur Komunitas Makroalga Ekonomis Penting Di Perairan Intertidal Manokwari, Papua Barat. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 1 Mei: 19-38.

Atmadja, WS., A. Kadi.,Sulistijo., Rachmaniar. 1996. Pengenalan jenis-jenis rumput laut di Indonesia.Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI, Jakarta.

Boo, SM., KM. Lee, GY. Cho dan W. Nelson. 2011. Colpomenia claytonii sp . nov . (Scytosiphonaceae, Phaeophyceae) based on morphology and mitochondrial cox3 sequences. Bot. Mar. 54 :159 – 167.

Brower, JE., JH Zar dan C.von Ende. 1998. Ekologi Umum. Metode Lapangan dan Laboratorium. Wm,C.Brown Company Publisher, Dubuque, Lowa.

Dawes, CJ. 1998. Marine Botany. Second Edition. John Wiley and Sons, Inc. University of South Florida.

Duxbury, AC dan AB. Fuxbury. 1989. Oceans and introduction to the world.Wm. C. Publisher, USA.

English, S., Wilkinson, C., Baker, V. 1997. Survey manual for Tropical Marine Resources, 2nd Edition. Townsville: Australian Institute of Marine Science.

Hutagalung, HP. 1988. Pengaruh Suhu Terhadap Kehidupan Organisme Laut. Pewarta Oseana. LON-LIPI: Jakarta.

Indriani, H dan E. Sumiarsih, 1992. Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Rumput Laut. Penerbit Penabur swadaya, Jakarta.

Juneidi, W. 2004. Rumput laut, jenis dan Morfologinya. Jakarta. Departemen Pendidikan nasional.

Kilinç B, Cirik S, Turan G. 2013. Seaweeds for food and industrial applications. Food Industry. In: Muzzalupo I (ed). InTech. Doi.

Kadi A. 1988. Rumput Laut (Alga), Jenis, Reproduksi, Produksi, Budidaya dan Pasca Panen. Jakarta: Lipi.

Kadi, dan Atmajaya, W. S., 1988. Rumput Laut (Alga), Jenis, Reproduksi, Produksi, Budidaya dan Pasca Panen. LIPI. Jakarta.

Luning, K. 1990. Seaweeds: Their Environment, Biogeography and Ecophysiology. John Wiley and Sons, Inc.

Manoa, 2001. Marine Algae. Acanthophora spicifera. Hawai’i: Botany Departmen. University of Hawai’i.

Mishra VK, Temelli F, Shacklock PFO. 1993. Lipids of the red alga Palmaria palmata. Bot Mar 36 (2): 169-174.

McNaughton, S.J., Wolf, L. 1990. Ekologi Umum. UGM Press. Yogyakarta.

Nirwan, A. Aidah A.A. Husain, Muh. Farid Samawi. 2013. Struktur Komunitas alga koralin bentuk percabangan Pada kondisi perairan yang berbeda di pulau Laelae, Bonebatang dan Badi : Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin: Makassar.

Nybakken.1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Odum, E. P.1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan Samigan dan B. Srigadi. Gaja Mada Univ. Press. Jogjakarta.

Palallo, A. 2013. Distribusi Makroalga pada Ekosistem Lamun dan Terumbu Karang di Pulau Bonebatang, Kecamatan Ujung Tanah, Kelurahan lompo, Makassar. Skripsi FKIP.UNHAS.

Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, and M.K. Moosa. 1997. The Ecology of the Indonesian Seas. Part Two. Singapore. Periplus.

Widyastuti, S., 2008. Pengolahan Pasca Panen Alga Merah Strain Lokal Lombok Menjadi Agar-agar Menggunakan Dua Metode Ekstraksi. Jurnal Penelitian Unram (2)14: 63-7.

www. algaebase. org. Database of Information on Alga That Includes Terrestrial, Marine and Freswater Organism. Diakses bulan Januari 2015.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.