DEKONSTRUKSI MAKNA BAHASA DALAM TRADISI KEAGAMAAN WETU TELU MASYARAKAT BAYAN

Authors

  • Wahyu Firman Agil universitas mataram
  • Siti Saniah
  • Sri Wahyuni
  • Sukma Maulida Afriani
  • Ulfi Kamalia
  • Hamidsyukrie ZM
  • Agung Firmansyah

DOI:

https://doi.org/10.29303/socedsasambo.v3i03.9806

Keywords:

bahasa adat, wetu telu, pelestarian budaya, identitas budaya

Abstract

Penelitian ini mengkaji makna bahasa adat Bayan dalam tradisi keagamaan Wetu Telu masyarakat Lombok Utara menggunakan pendekatan etnografi linguistik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi linguistik untuk memahami bagaimana bahasa adat digunakan dalam aspek sosial dan budaya. Data diperoleh dari wawancara dengan tokoh adat, dan masyarakat setempat, serta melalui pengamatan atau observasi langsung di lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa adat Bayan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya yang menyimpan makna spiritual, kosmologis, dan filosofis terkait hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan leluhur. Wetu Telu sendiri lebih dari sekadar praktik ritual, melainkan mencerminkan sistem kepercayaan yang kompleks dan bernilai tinggi. Namun, pengaruh modernisasi dan minimnya penggunaan bahasa adat berpotensi mengikis warisan budaya ini. Oleh karena itu, pelestarian bahasa dan pemahaman mendalam terhadap makna simboliknya sangat penting untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya masyarakat Bayan di tengah dinamika zaman.

References

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2021). Laporan Inventarisasi Bahasa Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Kemendikbudristek.

E. Y., Afifatunnisa, V., Iwansyah, I., & Salahuddin, M. (2023). Wetu Telu: Kesalahpahaman dalam Persepsi Masyarakat. Prosiding Seminar Nasional Gelar Wicara, 1(April), 174–177. https://e- journal.metrouniv.ac.id/index.php/akademika/article/view/164

Lestari, N. & Syahputra, D. (2022). “Vitalitas Bahasa Adat Bayan dalam Upacara Tradisional Masyarakat Sasak.” Jurnal Linguistika Nusantara, 4(1), 22–35.

Mailani, O., Nuraeni, I., Syakila, S. A., & Lazuardi, J. (2022). Bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia. Kampret Journal, 1(2), 1-10.

Mataram: Universitas Mataram Press.

Rahayu, T. (2023). Bahasa Adat dan Ketahanan Budaya Lokal: Studi di Desa Bayan.

Rahmatan, M. N. A., Utami, D. S. S., Nuna, E. N., Nada, M. Q., MF, G. T. K., Lestari, B., Asmarani,

Saladin, B. (2024). Wetu Telu Suatu Bentuk Keberagaman Pendidikan Pembebasan Berbudaya Masyarakat Lombok. Detik.Com. https://nnmmmm

Santosa, W. (2020). “Bahasa, Ritual, dan Kekuasaan dalam Adat Bayan.” Jurnal Antropologi Indonesia, 41(2), 145–160.

Seramasara, I. G. N. (2019). Wetu Telu Sebagai Identitas Etnis Sasak Dalam Tekanan Universalisme Di Lombok. 1–10. http://repo.isi-dps.ac.id/2482/

Sirnopati, R. (2016). ( Menelusuri Jejak “ Islam Wetu Telu ” Di Lombok ). 103–112. Siti Raihanun. (2016). Pelaksanaan Sholat Wetu Telu Suku Sasak. 1–96.

Sukardiman. (2022). Bertahannya eksistensi Islam Wetu Telu di tengah Islam Waktu Lima. Ri’ayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan, 7(1), 1–8.

Yuliani, M. (2024). Tradisi Lisan dan Bahasa Ritual di Bayan. Denpasar: Pustaka Budaya Nusa.

Downloads

Published

2025-09-30