ANALISIS LC-MS/MS (Liquid Crhomatogaph Mass Spectrometry) DAN METABOLIT SEKUNDER SERTA POTENSI ANTIBAKTERI EKSTRAK n-HEKSANA SPONS Callyspongia aerizusa YANG DIAMBIL PADA KONDISI TUTUPAN TERUMBU KARANG YANG BERBEDA DI PERAIRAN TELUK STARING

Wa Ode Intiyani Mangurana, Yusnaini Yusnaini, Sahidin Sahidin

Abstract

Abstrak : Spons merupakan bagian dari biota komponen penyusun ekosistem terumbu karang yang memiliki kandungan bioaktif. Salah satu jenis spons yang memiliki kandungan bioaktif adalah C. aerizusa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan kandungan bioaktif pada kondisi terumbu karang yang berbeda. Metode yang digunakan dalam survei kondisi terumbu karang dan penentuan stasiun pengamatan menggunakan metode Point Intercept Transect (PIT). Pemeriksaan metabolit sekunder menggunakkan metode Kromatografi lapis tipis menurut Harborne (1987), perbedaan kandungan senyawanya menggunakan analisis LC-MS/MS, pengujian aktivitas antibakteri menggunakkan metode sumuran. Hasil penelitian kondisi tutupan karang menunjukan bahwa kondisi tutupan karang hidup 19-65% dengan kategori buruk hingga baik. Jumlah senyawa pada stasiun I mencapai 15 dan jumlah senyawa pada stasiun II mencapai 13. Kandungan Metabolit Sekunder untuk C. aerizusa dari kedua stasiun sama, yaitu aktif terhadap alkoloid, steroid, flavonoid, terpenoid, dan saponin. Potensi Antibakteri Ekstrak n-heksana Spons C. aerizusa untuk stasiun I dan II tidak aktif terhadap E. coli namun Spons C. aerizusa stasiun I dan II aktif terhadap aktivitas S. mutans.

Kata Kuncin-heksana, Terumbu karang, metabolit sekunder, antibakteri  

Abstract : Sponges are part of the biota that make up the coral reef ecosystem that contains bioactive ingredients. One type of sponge that has a bioactive content is C. aerizusa. The purpose of this study was to see differences in bioactive content in different coral reef conditions. The method used in the coral reef condition survey and the determination of observation stations using the Point Intercept Transect (PIT) method. Examination of secondary metabolites using the thin layer chromatography method according to Harborne (1987), differences in the content of compounds using LC-MS / MS analysis, testing the antibacterial activity using the well method. The results of the research on coral cover conditions showed that the conditions of live coral cover were 19-65% with a bad to good category. The number of compounds at station I reached 15 and the number of compounds in station II reached 13. Secondary Metabolite content for C. aerizusa from both stations was equally active against alkoloid, steroid, flavonoids, terpenoids, and saponins. Antibacterial Potential of n-hexane Extract of C. aerizusa Sponge for stations I and II were not active against E. coli but sponge C. aerizusa station I and II were active against S. mutans activity.

Keywords : n-hexane, coral reefs, secondary metabolites, antibacterial

Keywords

Callyspongia aerizusa; n-hexane; coral reefs; secondary metabolites; antibacterial

Full Text:

PDF

References

CLSI. (2012). Methods for Dilution Antimicrobial Suspectibility Test for Bacteria that Grow Aerobically; Aproved Standard. 9th Edition. Clinical and Laboratory Standard Institute, 32 (2):16-19.

COREMAP-CTI (2017). Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI Jakarta

Davis, W.W. & T. R. Stout (1971). Disc Plate Method of Microbiological Antibiotic Assay. Applied Microbiology. 22: 659 –665.

De Voogd, N. J. (2005). Indonesian sponss “Biodiversity and mariculture potential”.The Royal Netherlands Academy of Sciences, Amsterdam: 174 pp.

Ditjen POM (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Fadilah (2013). Uji bioaktifitas antibakteri ekstrak dan Fraksi lamun dari kepulauan spermonde Kota makassar. Universitas Hasanuddin.

Fariska Yudha (2010). Studi Ekologi Senyawaan Spons Callispongia aerizusa Desqueyroux-Faundez, 1984. Dari Kepulauan Seribu, Jakarta. Seminar Nasional Biologi. Departemen Biologi. FMIPA UI.

Giyanto (2017). Status terumbu karang Indonesia. Coremap-CTI Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI. Jakarta.

Harborne, JB. (1987). Phytochemical Methods. New York. Chapman and Hall Ltd.

Hardiningtyas, S.D. (2009). Aktivitas antibakteri ekstrak karang lunak Sarcophyton sp yang difragmentasi dan tidak difragmentasi di perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Harper, M.K.; T.S.Bugni; Copp; .James; B.S.Lindsay & C.M.Ireland (2001). Introduction to the chemical ecology of marine natural products. In:Marine Chemical Ecolology. CRC Press USA 3-29 p

Himawan R. F. (2010). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

Hoegh-Guldberg, O. & Bruno, J.F. (2010). The Impact of Climate Change on the World’s Marine Ecosystems. Science, 328, 1523-1528.

Intiyani, Sadarun & Sahidin (2014). Kajian Potensi Aktivitas dan Metabolit Sekunder Beberapa Jenis Spons. Disampaikan Seminar Nasional Perikanan Berkelanjutan II. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Halu Oleo. Kendari.

Isnawati R. (2013). Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (HPLC)

Janssen, APHM. (2001). The Prence of Spons-Dwelling Endofauna in Reation to Spons Productivity.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Karang Berdasarkan KEPMEN LH No. 4 Tahun 2001.

Khatab RMA, Ali AE, El-Nomary B. & Temraz TA (2008). Screening For Antibacterial And Antifungal Activities Some Selected Marine Organisms Of The Suez Canal And Red Sea, Egypt Journal Exp Biol (Zool), 4(8):223-228.

Khopkar SM. (2003). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta, Universitas Indonesia-Press

Krisyuninda (2012). Uji Toksisitas Spons Callyspongia sp. dengan metode brine shrimp test dari perairan pasir putih situbondo. Institut Teknologi Sepuluh November. Surabaya

Marzuki, I. (2018). Eksplorasi Spons Indonesia Seputar Kepulauan Spermonde. Nas Media Pustaka. Makassar.

Muniarsih, T. & Rachmaniar, R. (1999). Isolasi Substansi Bioaktif Antimikroba dari Spons Asal Pulau Pari Kepulauan Seribu. Prosiding Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia 98. Jakarta Pengetahuan Indonesia Jakarta. hal. 15 -158.

Nofiani, R. (2008). Artikel ulas balik: Urgensi dan mekanisme biosintesis metabolit sekunder mikroba laut. Jurnal Natur Indonesia 10(2):120-125

Pelczar M.J. & Reid RD. (1958). Mikrobiology. Tokyo: McGraw-Hillbook Company.Inc.

Prayoga (2013). Perbandingan efek ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) dengan metode difusi disk dan sumuran terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

Rumampuk, Wowor & Mambo (2017). Uji Daya Hambat Ekstrak Spons Laut (Callyspongia aerizusa) terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi dan Streptococcus Pyogenes). Jurnal e-Biomedik (eBm). 5 (2) : Juli-Desember.

Zuhud, E.A.M, Winiati P.R, Hanny,W.C & Pipi, P.S, (2001). Aktivitas antimikroba ekstrak kedaung (Parkia roxburghii G Don) terhadap bakteri pathogen,Teknol & Indusri Pangan, XII(1): 6-12.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.