APLIKASI KONSEP KONSERVASI MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI PANTAI SELATAN LOMBOK TIMUR

Authors

  • Agil Al Idrus
  • Kesipudin Kesipudin
  • I Gde Mertha

DOI:

https://doi.org/10.29303/jppm.v1i1.480

Abstract

Mangrove dikenal oleh masyarakat lokal sebagai tumbuhan bakau yang memiliki nilai strategis dari aspek ekonomi, sosial dan ekologi. Konsep konservasi mangrove yang menitikberatkan hanya pada nilai ekologi cendrung kurang direspon oleh masyarakat lokal. Oleh karena itu dibutuhkan formulasi yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat lokal untuk aksi konservasi mangrove. Formulasi yang memiliki nilai strategis dalam rangka aksi konservasi mangrove adalah pengelolaan kawasan pantai yang memiliki ekosistem mangrove dengan mengoptimalkan kapasitas kelembagaan lokal. àTujuan kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan peranan dan mangrove bagi masyarakat. Tujuan jangka panjang adalah memberikan contoh untuk: (1) konservasi mangrove yang dapat menjadi model dalam kebijakan terpadu pengelolaan potensi mongrove untuk mencapai tujuan ekologi, ekonomi dan sosial masyarakat lokal dan (2) laboratorium alam yang representatif sebagai sumber belajar biologi. Target khusus penelitian ini adalah: (1) Meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat lokal, (2) dapat mengembangkan dan mempromosikan konsep ekowiasata mangrove sebagai sumber ekonomi masyarakat lokal yang berkelanjutan, (3) kapasitas àkelembagaan masyarakat lokal menjadi inisiator dalam rehabilitasi habitat mangrove (4) ada regulasi ditingkat masyarakat lokal dalam perlindungan areal mangrove dari aktivitas masyarakat dan (5) Laboratorium alam untuk pembelajaran dan penelitian àbiologi.à Metode yang digunakan pada pengabdian ini adalah survey, observasi, wawancara, penyampaian materi, dan diskusi. Dilaksanakan secara bersamaan dengan kelompok konservasi mangrove untuk pengembangan ekowiasta dan laboratorium alam. Analisis yang digunakan adalah analisis diskriptif danà konten sesuai denganà tujuan. Berdasarkan kegiatan, survey, diskusi, dan tanya jawab dengan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa:à Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan ekosistem mangrove perlu ada program tindak lanjut, dengan membangun kemitraan dengan masyarakat, pemerintah dan perguruan tinggi yang saling menguntungkan. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang ekosistem mangrove, perlu digali potensinya, mencarikan solusinya, dikembangkan menjadi konsep ekowisata mangrove yang halal.

References

Agil Al Idrus, Hadiprayitno G, Hamdi L dan Mertha IG. 2014. Invtarisasi Flora dan fauna di Kawasan Mangrove Gili Sulat untuk Pengembangan Bahan Ajar Ekologi dan Penunjang Parawisata. Loporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Mataram.

Agil Al Idrus, Hadiprayitno G, Hamdi L dan Mertha IG. 2015. Potensi Vegetasi dan Arthropoda di Kawasan Mangrove Gili Sulat Lombok Timur. Biologi Tropis, 15 (2): 62-70.

Badan Statistik Kabupaten Lombok Timur, 2017; Kecamatan Keruak dalam Angka, BPS Lotim.

Basurto, X., A. Bennett, A. Hudson Weaver, S. Rodriguez-Van Dyck, and J.-S. Aceves-Bueno. 2013. Cooperative and noncooperative strategies for small-scale fisheriesââ¬â¢ self-governance in the globalization era: implications for conservation. Ecology and Society 18 (4): 38.

Ellison A M. 2008. Mangrove ecologyââ¬â applications in forestry and costal zone management. Aquatic Botany, (89): 77.

Larkum AWD. Robert JO dan Carlos M. Duarte. 2006. Seagrasses: Biology, Ecology and Conservation. Springer. Netherlands.

Nagelkerken, I., Blaber, S.J.M., Bouillon, S., Green, P., Haywood, M., Kirton, L.G., Meynecke, J.-O., Pawlik, J., Penrose, H.M., Sasekumar, A.,

Somerfield, P.J., 2008. The habitat function of mangroves for terrestrial and marine fauna: A review. Aquatic. Botany. 89, 155ââ¬â18.

Pauly D. and Ingles J.1986. The relationship between shrimp yields and intertidal vegetation (mangrove) areas: areassessment. In IOC/FAO Workshop on Recruitment in Tropical Coastal Demersal Communities. Unesco Paris, pp.227- 284.

Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomer 10 Tahun 2006. tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomer 2 Tahun 2006.

Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomer 9 Tahun 2006. tentang Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai secara Partisipatif. Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomer 1 Tahun 2006.

Perez, M.L, M.D. Pido, L.R. Garces dan N.D. Salayo. 2012. Towards Sustainable Development of Small-Scale Fisheries in the Philippines: Experiences and Lessons Learned from Eight Regional Sites. WorldFish. Penang, Malaysia.

Satria A. 2006. Sawen institution, local knowledge in fisheries management in North Lombok, Indonesia. Fisher Knowledge in Fisheries Science and Management. UNESCO: 197 ââ¬â 218.

Sridianti. 2013. Pengertian Detrivor Diakses pada. Uncategorized Tagged pada hari selasa 27 Desember 2017 pukul 00.08 Wita.

Susanto H A. 2011. Progres pengembangan sistem kawasan konservasi peraiaran Indonesia. USAID Project: 1-48.

Syukur A, Wardiatno Y, Kamal M, Muksain I. 2012. Keragaman jenis ikan pada padang lamun di Tanjung Luar Lombok Timur. Biotrofis FKIP Unram. 13(1), 125-136.

Twilley RR, Snedaker SC,Yanez-Arancibia A.and Medina E. 1996. Biodiversity and ecosystem processes in tropical estuaries: Perspective of mangrove ecosystems. In Functional Roles of Biodi-439 Volume 37/Numbers 8ñ12/AugustñDecember 1998 versity: a Global Perspective, eds. Wiley, New York, pp. 327- 370

Downloads

Published

2018-02-28

How to Cite

Idrus, A. A., Kesipudin, K., & Mertha, I. G. (2018). APLIKASI KONSEP KONSERVASI MANGROVE UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA DI PANTAI SELATAN LOMBOK TIMUR. Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat, 1(1). https://doi.org/10.29303/jppm.v1i1.480

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)